Kamis, 22 Maret 2012

Lebih Syahdu Dengan Cemburu..
====================

Cemburu itu bumbu percintaan begitu kata seorang istri yang baru beberapa bulan melepas masa lajangnya. Tanpa cemburu rasanya tak berkesan, dingin. Terlalu cemburu juga repot bikin kepala pusing, pulang telat sedikit bisa ngambek orang rumah kata sang suami.

Atau memang sudah dari sononya, wanita itu pencemburu. Perkara sepele pun bisa jadi besar hanya gara-gara cemburu. Karena itu sang suami harus jeli memperhatikan karakter pasangannya, jangan sampai salah langkah dalam meluruskannya. Payahnya, sang istri biasanya suka larut dalam perasaan cemburu sehingga cenderung mendramatisir persoalan.

Karena itu tak perlu kaget dengan cemburu karena istri-istri Nabi shallallahu ‘alahi wassalam juga cemburu. Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini diantaranya adalah hadits shahih riwayat muslim dan lainnya.
Bahwa Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pergi dari sisinya, akupun cemburu terhadapnya. Kemudian beliau datang dan melihat yang aku lakukan itu. Beliau berkata, “Ada apa gerangan dengan dirimu wahai ‘Aisyah, apakah engkau cemburu?” Mengapa saya tidak cemburu terhadap orang seperti engkau, jawab ‘Aisyah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Apakah setanmu sedang datang kepadamu”

Atau perkataan ‘Aisyah dalam hadits lain, “Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah. Saya menyangka beliau pergi menemui istrinya yang lain. Akupun menyelidikinya ternyata beliau sedang ruku’ dan sujud sambil berdoa, Subhanaka wabihamdika lailahailla anta, Maha suci Engkau dan MahaTerpuji Emgkau, tiada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Engkau”

Maka aku berkata, “Demi Allah, engkau berada dalam satu keadaan (ibadah) sementara aku berada dalam keadaan yang lain pula (cemburu).

Jadi memang cemburu itu seninya rumah tangga hanya bagaimana mengelolah cemburu menjadi gairah cinta membara dalam bingkai sakinah mawaddah wa rahmah bukan sebaliknya, menjadi bulan-bulanan pertentangan dan percekcokan. Banyak sekali hanya karena perkara sepele rumah tangga jadi berantakan apalagi memang ada tanda-tanda pasangan main mata. Celakanya lagi, pasangan kita ternyata memeliki pemahaman agamanya minim, shalatnya belang-belang, pergaulannya pun bebas. Maka wajar saja kalau pasangan kita tidak percaya.

Apalagi terkadang suami tidak terlalu terbuka, mendadak menjadi orang tertutup seperti ada yang disembunyikan. Memang berpura-pura terhadap seorang istri termasuk sikap yang bijak. Kadang kala seorang suami menyembunyikan sesuatu yang apabila diungkapkan terus terang kepada istrinya, suasana akan bertambah kacau. Hal ini pun harus dimaklumi karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana diriwayatkan oleh al- Bukhari dan muslim,

“Berbuat baiklah kepada kaum wanita. Sebab mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, jika engkau biarkan maka ia akan tetap bengkok. Maka dari itu berbuat baiklah kepada kaum wanita.”

Bahkan seorang suami boleh berbohong kepada isterinya dalam rangka menyenangkan perasaan istrinya dan memperdalam rasa kasih sayang antara keduanya. Dalam sebuah hadits riwayat al- Bukhari dan Muslimserta Abu Dawud XIII/263, an-Nasa’I dan Ahmad VI/404, “Aku tidak menganggap sebuah dusta; seorang yang mendamaikan antara manusia, ia mengatakan sesuatu yang tujuannya tidak lain adalah memperbaiki hubungan manusia. Begitu pula seorang yang mengatakan sesuatu dalam peperangan. Dan juga seorang suami yang mengatakan sesuatu untuk istrinya serta seorang istri yang mengatakan sesuatu untuk suaminya”

Imam Nawawi mengomentari hadits diatas dalam Syarah Muslim mengatakan, ‘Adapun masalah berbohongnya suami kepada isterinya dan berbohongnya istri kepada suaminya maksudnya adalah dalam kaitannya mengungkapkan rasa cinta, janji-janji yang tidak mengikat dan sejenisnya. Adapun bohong yang berbau tipu muslihat untuk menghalangi hak salah satu dari keduanya atau dalam rangka merampas yang buka haknya, maka hal itu haram hukumnya menurut kesepakatan kaum muslimin’

Pesona Lain

Bagi seorang suami atau istri ketika melihat ada pesona lain berupa laki-laki yang lebih mempesona atau wanita yang cantik sebagai orang beriman diperintahkan untuk menundukkan pandangan. Jika pandangan tertuju pada seorang wanita hendaklah ia cepat-cepat memalingkan pandangannya. Jika tergoda lantaran pandangannya itu hendaklah ia mendatangi istrinya hingga gejolak syahwatnya dapat diredam.

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam pernah melihat seorang wanita yang membuat beliau terpesona. Beliaupun segera mendatangi Zainab (salah seorang istri beliau) yang saat itu tengah menyamak kulit binatang lalu Rasulullah menunaikan hajat biologis, selanjutnya beliau bersabda:

“Sesungguhnya kaum wanita itu datang dalam bentuk setan dan pergi juga dalam bentuk setan (maksudnya datang dan pergi dengan membawa godaan setan). Maka bila salah seorang dari kamu melihat seorang wanita yang membuatnya terpesona hendaklah ia menemui istrinya, sebab yang ada pada istrinya persis seperti yang ada pada wanita yang membuatnya terpesona tadi.” (HR. Muslim VI/129-130, Abu Dawud II/426, at Tirmidzi IV/322 ia berkata hasan shahih gharib)

Ketika Pulang

Saat seorang suami kembali dari safar (perjalanan) hendaklah terlebih dahulu ia menuju masjid untuk mengerjakan shalat dua rakaat. Yang demikian itu merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sebagaimana diceritakan oleh Ka’ab bin Malik dalam sebuah hadits yang panjang, yaitu ketika ia tidak turut dalam perang tabuk.

Atau ketika seorang suami pulang kerja sebaiknya ia member kabar terlebih dahulu, misalnya melalui pesan singkat (SMS) dengan member estimasi jam kedatangannya agar istri dapat bersiap-siap menyambutnya agar istri dapat bersiap-siap menyambutnya. Seorang istripun tentu saja akan berupaya menarik perhatian suaminya dengan bersolek dan berhias. Hal ini dapat meredam rasa cemburu dan membangkitkan gelora cinta diantara keduanya.

Seorang wanita berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apabila seorang wanita tidak berhias untuk suaminya maka ia akan menyebalkan suaminya’ (HR. an-Nasa’I VIII/159, Ahmad II/440, Hadits ini hasan dengan berbagi penguat). Kata shalafat ‘indahu dalam hadits ini bermakna menyebalkan dan menjadikan suami tidak senang melihatnya.

Memang lumrah saja punya rasa cemburu terhadap pasangan, justru yang patut dicurigai adalah ketika rasa cemburu itu hilang dari salahsatu pasangan. Makna cemburu itu kata Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari dalam al-Insyirah fi Adabin Nikah bukanlah berburuk sangka kepada suami atau istri, hingga meragukan kejujurannya serta terus mencari-cari kesalahannya. Hal seperti ini justru dilarang.

“Diantaranya rasa cemburu itu ada yang dibenci oleh Allah, yaitu cemburu seorang suami terhadap istrinya tanpa ada sebab-sebab yang mencurigakan” (HR. Abu Dawud 2695, an-Nasa’I V/78-79 dan yang lainnya. Hadits ini hasan)

Cemburu memang menambah kasih sayang dalam mengayun biduk rumah tangga agar cinta terasa lebih syahdu, dan terasa hampa tanpa rasa cemburu. Wallahua’alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar