Selasa, 01 Mei 2012

==> http://www.facebook.com/notes/maiya-azyzaa/novel-bidadari-bidadari-surga-bagian-1/247293605353089

BIDADARI-BIDADARI SURGA by Tere Liye

BAGIAN 1

EMPAT PENJURU

"PULANGLAH. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin
minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar
tidak ada waktu lagi. Anak anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah...."
Wajah keriput nan tua itu menghela nafas.
Sekali. Dua kali. Lebih panjang. Lebih berat. Membaca pesan itu entah
untuk berapa kali lagi. Pelan menyeka pipinya yang berlinang, juga lembut
menyeka dahi putri sulungnya, wanita berwajah pucat yang terbaring lemah di
hadapannya. Mengangguk. Berbisik lembut: "Ijinkan, Mamak mengirimkannya,
Lais.... Mamak mohon...."
Pagi indah datang di lembah itu.
Cahaya matahari mengambang di antara kabut.
Embun menggelayut di dedaunan strawberry. Buahnya yang beranjak
ranum nan memerah. Hamparan perkebunan strawberry terlihat indah
terbungkus selimut putih sejauh mata memandang.
Satu bilur air mata akhirnya ikut menetes dari wanita berwajah redup
yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Mereka berdua bersitatap satu
sama lain, lamat-lamat. Lima belas detik senyap. Hanya desau angin lembah
menelisik daun jendela. Ya Allah, sungguh sejak kecil ia menyimpan semuanya
sendirian. Sungguh. Demi adik-adiknya. Demi kehidupan mereka yang lebih
baik. Ia rela melakukannya. Tapi, sepertinya semua sudah usai. Waktunya sudah
selesai. Tidak lama lagi.
Sudah saatnya mereka tahu. Sudah saatnya....
Perempuan berwajah pucat di atas ranjang berusaha tersenyum, dengan
sisa-sisa tenaga. Sedikit terbatuk, bercak darah merah mengalir dari sela bibir
bersama dahak. Bernafas sesak. Semakin kesakitan. Namun sekarang muka
tirusnya mengembang oleh sebuah penerimaan. Ia perlahan mengangguk.
Tangan tua itu demi melihat anggukan putri sulungnya, tanpa menunggu
lagi gemetar menekan tombol ok. Message transmitted. Maka! Dalam hitungan
seperjuta kedipan mata.
Melesat Berpilin. Berputar.
Seketika saat tombol ok itu ditekan, jika mata bisa melihatnya, bak
komet, bagai anak panah, macam rudal berkecepatan tinggi, 203 karakter SMS
itu berubah menjadi data binari 0-1-0-1! Menderu tak-tertahankan menuju
tower BTS (base transmitter station) terdekat. Sepersekian detik lagi lantas
dilontarkan sekuat tenaga menuju satelit Palapa C-2 ratusan kilometer di atas
sana, berputar dalam sistem pembagian wilayah yang rumit, bergabung dengan
jutaan pesan, suara, streaming gambar, dan data lainnya dari berbagai sudut
muka bumi (yang hebatnya tak satupun tertukar-tukar), lantas sebelum mata
sempat berkedip lagi, pesan tersebut sudah dilontarkan kembali ke muka bumi!
Pecah menjadi empat.
Bagai meteor yang terbelah, pecahan itu berpendar-pendar sejuta warna
menghujam ke empat penjuru dunia.
Empat nomor telepon genggam!
Tak peduli di manapun itu berada. Tak peduli sedang apapun pemiliknya.
Kabar itu segera terkirimkan. Melesat mencari empat nomor telepon genggam
yang dituju.
Pulanglah anak-anakku! Untuk pertama dan sekaligus untuk terakhir
kalinya, kakak kalian membutuhkan kalian………

BERSAMBUNG..,
==> http://www.facebook.com/notes/maiya-azyzaa/novel-bidadari-bidadari-surga-bagian-2/247325182016598

BIDADARI-BIDADARI SURGA By Tere Liye
BAGIAN 2
BULAN YANG TERBELAH

"HADIRIN yang kami hormati, tiba saatnya kita mengundang ke atas
panggung, seseorang yang sudah kita tunggu-tunggu sejak tadi. Seseorang yang
seolah-olah akan – maaf – membuat lima profesor sebelumnya terasa
membosankan dan membuat mengantuk"
Tertawa. Ruangan besar itu buncah oleh tawa.
".... Banyak sekali catatan hebat yang dimilikinya, tapi anehnya, meski
banyak, sekarang kita sama sekali tak perlu menyebut satupun. Ah, bukan
karena akan merepotkan membaca daftar super-panjang itu, tapi buat apa lagi,
semua sudah hafal, bukan? Jadi buat siapapun di ruangan besar ini, siapapun di
antara lima ratus peserta Simposium Fisika Intemasional ini yang tidak
mengenal sosoknya. Yang, oh, betapa malangnya peserta itu—" Tertawa lagi.
"Buat peserta malang itu, saya akan memperkenalkan pembicara utama
simposium kita hanya dengan memperlihatkan cover sebuah majalah: Science!"
Dengan sedikit dramatis, moderator simposium fisika itu sengaja mengangkat
tinggi-tinggi majatah yang dimaksud.
"Inilah jurnal ilmu-pengetahuan terkemuka di dunia. Yang memiliki
reputasi paling hebat di antara sejenisnya. Lihatlah edisi bulan ini, edisi terbaru!
Terpaksa menurunkan laporan tidak lazim, utuh sebanyak 49 halaman, hmm,
itu bisa dibilang hampir seperempat tebal majalah ini.... Kenapa saya sebut
tidak lazim? Karena laporan ini sungguh tak biasa bagi banyak ahli fisika yang
kebanyakan sekuler. Apalagi untuk konsumsi publik di negara-negara Barat
sana. Judul penelitiannya adalah: 'Pembuktian Tak Terbantahkan Bulan Yang
Pernah Terbelah'.
Kepala-kepala menyeruak. Berebut ingin melihat lebih jelas.
"Penelitian yang amat mengesankan, mengingat hari ini, ketika
kehidupan sudah begitu tidak-pedulinya dengan fakta-fakta dalam agama,
pembicara utama kita siang ini justru datang dengan sepuluh bukti bahwa bulan
memang pernah terbelah 1.400 tahun silam dalam hasil penelitian mutakhirnya.
Bukan main. Lengkap tak terbantahkan, sebagai salah satu mukjijat Nabi
penutup jaman. Benar-benar terbelah dua seperti kalian sedang membelah
semangka, bukan penampakan sihir, apalagi ilusi mata seperti yang dituduhkan
dan dipahami banyak orang sejak dulu. Lantas setelah dibelah, dua potongan
bulan tersebut disatukan kembali, seperti bulan yang biasa kita lihat sekarang.
Itu benar-benar pernah terjadi!" Moderator itu berhenti sejenak. Membiarkan
ruangan besar dipenuhi sensasi yang diinginkannya. Terpesona. Ingin tahu.
Rasa kagum Sejenis itulah.
"Well, meski kalau dipikir-pikir sebenarnya pembuktian hebat atas bulan
yang pernah terbelah itu tidak terlalu mengejutkan kita, bukan? Hanya soal
waktu dia akan membuktikannya. Mengingat profesor muda kita adalah orang
pertama di negeri ini yang berkali-kali menulis di jurnal paling prestisius dunia
itu. Mendapat pengakuan dari berbagai institusi penelitian dunia, dan selalu
konsisten berusaha membuktikan berbagai transkripsi dan sejarah religius dari
sisi ilmiahnya...."
Muka-muka yang memadati ruang konvensi besar itu terlihat semakin
bercahaya oleh antusiasme. Seperti anak kecil yang dijanjikan mainan baru.
Atau seperti anak kecil yang melihat penuh rasa ingin tahu toples penuh gula-
gula. Menunggu tak sabaran moderator yang terus ngoceh tentang fakta yang
sebenamya mereka sudah tahu semua. Termasuk jurnal itu. Tadi pagi dibagikan
gratis ke seluruh peserta.
".... Namanya terdaftar dalam 100 peneliti fisika paling berbakat di dunia.
Dan tidak berlebihan jika mantan koleganya di Princenton University berandai-
andai dia akan menjadi salah-satu kandidat kuat penerima nobel fisika beberapa
tahun ke depan. Jadi buat peserta yang tidak sempat mengenalnya secara
langsung, hari ini setelah enam bulan berusaha menculiknya dari jadwal
laboratorium yang tidak masuk-akal, dari berbagai penelitian yang serius,
sistematis dan kaku... hari ini dengan bangga kami hadirkan sosok yang
sebaliknya memiliki wajah dan kepribadian santun menyenangkan ini...." Gadis
moderator itu tersenyum lebar, terlihat amat senang membuat seluruh peserta
simposium menunggu tak sabaran kalimat-kalimat perkenalannya.
Menikmati posisinya sebagai 'penguasa' jadwal acara.
"Ah-ya, soal wajah dan kepribadian yang santun menyenangkan? Kalian
tahu, yang menarik ternyata bukan hanya wajah profesor ini yang terlihat
santun menyenangkan. Well, di tengah kesibukannya sebagai peneliti, pakar,
dan apalah namanya yang serba serius dan menuntut banyak waktu itu, profesor
muda kita tetap hidup dengan segala romantisme bersama keluarga kecilnya.
Lihatlah, hari ini dia datang dengan istrinya yang terlihat cantik, selamat siang
Nyonya!"
Muka-muka tertoleh. Penuh rasa ingin tahu. Mereka belum pernah
melihat istri sang Profesor, meski dengan begitu banyak publisitas selama ini.
Tersenyum. Wanita cantik berkerudung yang duduk di sebelah sang Profesor,
baris kedua dari depan itu ikut balas tersenyum, layar LCD raksasa di depan
plenary hall menayangkan paras cantiknya.Mengangguk anggun. Sedikit bersemu merah.
"Ada yang berminat mendengar kisah indah pertemuan mereka?"
Moderator menyeringai lebar.
Hampir seluruh peserta simposium meski tertarik, menggdeng. Mereka
jauh-jauh datang dari berbagai universitas ternama ke ruangan besar itu jelas-
jelas ingin mendengarkan paparan mutakhir temuan fisika, bukan celoteh
moderator.
"Baiklah karena kalian memaksa, maka dengan senang hati saya akan
menceritakan bagian tersebut..."
Wajah-wajah terlipat. Gumam keberatan.
"Keluarga yang hebat meski tidak menyukai publisitas...."
"Masa kecil yang penuh perjuangan... kalian tahu, Profesor kita sudah
membuat kincir air setinggi lima meter saat ia masih kanak-kanak...."
".... Perkenalan di kontes fisika, terpesona oleh kecantikan remaja...
Profesor kita mengejar hingga ke Bandara, haha...."
Lima menit berlalu, peserta simposium mulai jengkel
".... Perkebunan strawberry yang indah...."
".... Masa kecil yang begitu mengesankan...."
Satu-dua peserta sengaja mulai berdehem (lebih keras).
".... Baik, baik." Akhirnya gadis di podium menyadari ruangan mulai
gerah, tersenyum lebar tidak-sensitif, "Karena saya pikir kalian sedikit mulai
tak-sabaran mendengar perkenalan yang sebenarnya amat penting dari saya,
baiklah, hadirin, berikan sambutan yang paling meriah, inilah salah-satu
profesor fisika termuda, ternama, yang pernah ada di negeri ini, profesor
kebanggaan kita, Profesor Da-li-mun-te!"
Tepuk-tangan bak dikomando menggema bagai dengung lebah.
Pemuda berumur 37 tahun itu tersenyum lebar.
Melepas genggaman mesra, berbisik lembut ke istrinya. Berdiri. Lantas
melangkah sigap menuju podium. Dengan langkah panjang-panjang.
Rambutnya tersisir rapi mengkilat. Matanya tajam memandang, Rahangnya
kokoh. Eskpresi wajahnya meski santun menyenangkan seperti yang dibilang
moderator cerewet itu, sebenamya terlihat keras mengiris, sisa gurat masa kecil
yang tidak selalu beruntung.
Hari ini Profesor Dalimunte mengenakan kemeja krem. Rapi seperti
biasa. Meski 'gelang karet' gaya anak muda di tangan kanan membuatnya
terlihat lebih kasual, untuk tidak bilang sebenarnya sedikit tidak matching
dengan busana rapinya. Gelang itu macam gelang karet yang bertulisan
'solidarity forever', 'united for all', 'long live friendship', yang sedang trend di
anak muda.
Itu gelang pemberian Intan, putri sulungnya yang berumur sembilan
tahun. Bertuliskan, 'Safe The Planet!' Minggu-minggu ini, Intan menjadi ketua
panitia 'Earth Day' di sekolah. Memaksa siapa saja mengenakan gelang itu. Satu
gelang bernilai sumbangan 5.000 perak. Nanti uangnya buatbeli tong sampah
yang bakal dikirim ke daerah-daerah korban bencana alam. Makanya Intan
sibuk benar berpromosi. Termasuk ke Eyang Lainuri (malah seminggu lalu
mengirimkan selusin gelang ke perkebunan strawberry buat tukang-tukang
kebun); buat apa coba di pedalaman indah nan sederhana itu penduduknya
pakai gelang? Ah, Intan memang keras kepala soal proyek "Safe The Planet" -
nya, lihatlah satu gelang juga terpasang rapi di leher hamster belang miliknya,
meski yang bayar lima ribu perak, ya Ummi.
Profesor Dalimunte memperbaiki speaker di atas podium. Pelan
mengetuk-ngetuknya. Berdehem. Tepukan mereda. Peserta konvensi perlahan
duduk kembali. Menatap antusias ke depan.
"Baik, pertama-tama, terima-kasih atas perkenalan yang hebat, panjang,
dan superlengkapnya. Meski saya pikir kau agak berlebihan dengan
menceritakan bagian romantisme pertemuan itu, Anne!" Dalimunte
menganggukan kepala kepada moderator, tersenyum, "Tapi terima kasih atas
sentuhan keluarganya: profesor muda kita tetap hidup dengan segala
romantisme bersama keluarga kecilnya.... Anne, setidaknya dengan kalimat
terakhir itu, kau membuatku terlihat sedikit lebih manusiawi. Bukan seperti
daftar penelitian yang kulakukan sepanjang tahun: sistematis, serius, dan kaku.
Ya, profesor fisika juga manusia biasa, bukan—"
Tertawa. Ruangan besar itu ramai oleh tawa.
"Hadirin, sebelumnya maafkan saya untuk dua hal...." Profesor Dalimunte
mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat, "Pertama karena saya hanya
punya waktu lima belas menit untuk memenuhi segala keingintahuan kalian.
Saya harap itu cukup setelah hampir enam bulan kalian menunggu kesempatan
ini. Kalian tahu, ada banyak pekerjaan di laboratorium, belum lagi dengan
segala tenggat waktunya. Di samping itu, kalian tahu persis, saya tidak terlalu
menikmati dikelilingi puluhan wartawan dengan kameranya. Semua popularitas
ini.... Jadi ijinkanlah saya untuk memulai langsung topik kita hari ini—"
Wajah-wajah terlihat semakin antusias. Tangan-tangan wibuk
menggenggam pulpen bersiap mencatat. Takut benar ada fakta terucap yang terselip di ingatan dan lalai di catat takut benar terlihat sebagai orang paling
bodoh dalam ruangan simposium fisika internasional tersebut. Ini lima belas
menit yang penting.
".... Seperti yang telah kalian baca di jurnal tersebut bulan dibelah dua
sudah menjadi fakta religius ratusan tahun silam. Salah-satu mukjizat Nabi
penutup jaman. Ada banyak perdebatan, ada banyak penelitian yang justru
mencoba membuktikan kalau itu semua keliru. Ternyata tidak. Keajaiban itu
memang pernah terjadi! — Bagaimana mungkin ada satu potongan translasi
religius yang keliru? Kitab suci keliru? Hadist yang salah? Sungguh lelucon
yang tidak lucu. Itu tidak mungkin terjadi!" Profesor Dalimunte dengan muka
serius menunjuk slide gambar bulan terbelah dua di layar LCD raksasa depan
ruangan.
"Tapi seperti yang saya bilang tadi, untuk kedua kalinya maafkan saya,
karena hari ini saya memutuskan untuk tidak membicarakan penelitian yang
sudah dimuat dengan baik oleh jurnal populer yang selama ini sekuler dan
diskriminatif, 'Science'. Kalian bisa membaca sendiri seluruh buktinya di
majalah tersebut, dan jika masih ada pertanyaan, kolega dan staf saya di
laboratorium dengan senang hati membalas e-mail pertanyaan, pesan, ajakan
diskusi, atau apapun dari kalian....
“Hari ini sesuai kesepakatan dengan panitia simposium lima menit setiba
saya di sini, saya akan menyajikan pembuktian fakta religius penting lainnya.
Bukan tentang bulan, tapi isu yang lebih besar. Lebih mendesak untuk
disampaikan. Perubahan topik ini sebenarnya kabar baik bagi kalian, karena
kalian akan menjadi orang pertama yang mendengarkan progress penelitian
terbaru kami: Badai Ekktromagnetik Antar Galaksi menjelang hari kiamat...."
Slide bergerak cepat. Sekarang memunculkan sebuah translasi kitab suci.
Wajah-wajah dalam ruang besar nampaknya tidak terlalu keberatan dengan
perubahan topik yang mendadak tersebut. Buru-buru mencoret judul catatan di
atas kertas.
Profesor Dalimunte tersenyum lebar menatap sekitar dengan rileks. Lima
ratus undangan. Lima ratus ahli fisika dari berbagai penjuru dunia. Meski tidak
terlalu menyukai publisitas, dia amat terlatih untuk urusan mengendalikan
massa seperti ini. Dulu dia belajar dari guru terbaiknya.

BERSAMBUNG..,
==> http://www.facebook.com/notes/maiya-azyzaa/novel-bidadari-bidadari-surga-bagian-4/247925978623185

BIDADARI-BIDADARI SURGA by Tere Liye
BAGIAN 4
TITIPAN KAOS BOLA

PESAWAT AIRBUS 3320 milik maskapai penerbangan Italiano Sky itu
melesat membelah pesisir Eropa. Malam hari. Pukul 19.30 di sini. Speaker di
pesawat memperdengarkan suara merdu sang pramugari yang lembut menyapa
penumpang: "... Signore e signori, Vaereo atterera tra 5 minuti all'aeroporto di
Roma. Si prega di allaciare di cinture di skurezza... Informiamo i signori
pesseggeri che e tra Giacarta e Roma vi sono sette ore di differenza….. Senior
& Seniorita, pesawat akan segera mendarat di Bandara Roma lima menit lagi.
Harap kenakan sabuk pengaman Anda.... Perbedaan waktu Jakarta dan Roma"
"Bangun, Ikanuri!" Wibisana menyikut lengan adiknya.
Ikanuri menguap, menggosok matanya, "Sudah sampai?"
Wibisana mengangguk.
Wajah mereka berdua mirip sekali. Rambut. Matanya. Ekspresi wajah.
Bahkan bekas luka kecil di dahi. Bedanya, yang satu baretnya di sebelah kanan,
yang satu di sebelah kiri. Selain itu, nyaris 99,99% mirip, termasuk tinggi, lebar
dan bentuk perawakan tubuh. Jadi seperti sepasang kembar kalau mereka
berdiri berjajar. Padahal mereka sedikit pun tidak kembar, apalagi kembar
identik. Mereka berdua hanya lahir di tahun yang sama, terpisahkan sebelas
bulan. Yang satu beramur 34 tahun (Wibisana), yang satunya (Ikanuri) 33
tahun. Menariknya, meski Ikanuri lebih muda, dia lebih dominan dalam urusan
apapun dibanding Wibisana. Makanya orang-orang justru berpikir Ikanuri-lah
yang menjadi kakak.
"Kau mimpi apa?" Wibisana tertawa melihat wajah Ikanuri yang
mengernyit, berusaha mengusap-usap matanya yang sedikit merah.
"Biasa! Mimpi dikejar-kejar Kak Lais pakai sapu lidi! Sialan, kali ini ia
berhasil memukul pantatku! Sakit sekali — " Ikanuri menjawab seadanya,
nyengir. Pura-pura mengusap punggungnya. Ikut tertawa.
Demi mendengar celetukan adiknya, Wibisana tertawa lebih lebar. Bagian
itu kenangan masa kecil favorit mereka, olok-olok masa lalu yang
menyenangkan untuk diingat, meski telah berkali-kali diingatnya. Nyengir
lebar. Sementara Ikanuri sudah sibuk merapikan kemeja biru yang
dikenakannya. Membungkuk memasang tali sepatu. Tadi sengaja dilepas, agar
bisa rileks tidur di kursi penerbangan kelas ekonomi, yang tempat duduknya
ekstra sempit buat penerbangan jarak jauh.
"Ini apa?" Wibisana mendorong pelan laptop di atas tatakan meja, ikut
membungkuk, mengambil kertas yang tidak sengaja jatuh dari saku kemeja
Ikanuri saat memasang tali sepatu.
"Oo itu —, biasa titipan Juwita! Kau bacalah!"
"Papa, questi sono i miei desideri.. 1. Pizza, 2. Spagheti, 3. Miniatur
Colloseum, 4. Miniatur Menara Miring, 5. Kaos bola Del Piero, 6. Kaos bola
Totti, 7, Kaos bola Materazzi, 8. Kaos bola Zidane," Wibisana tertawa kecil
lagi, menghentikan membaca daftar panjang di kertas tergulung itu, "Haha,
bagaimana mungkin 'sigung kecil' itu tidak tahu kalau Zidane sudah tidak main
bola lagi di Juventus? Lagipula Zidane sudah lama pindah ke liga Spanyol,
bukan? Sudah pension pula sejak piala dunia. Tidak adalah kaosnya di sini—"
"Mana pula anak itu akan peduli," Ikanuri menerima kertas pesanan
tersebut dari Wibisana, melipatnya. "Kau tahu, Juwita seminggu terakhir
sengaja benar membuka buku pintarnya tentang Italia. Mendaftar semua
pesanan ini. Entahlah, sempat atau tidak membeli semuanya, apalagi kaos-kaos
bola ini. Buat apa coba Juwita titip kaos bola, jelas-jelas ia anak perempuan,
kan? Titipannya kali ini benar-benar akan merepotkan. Mungkin tidak semua
akan bisa kubelikan..."
"Kalau begitu, bersiap-siaplah melihat wajah sok merajuknya saat kau
nanti pulang!" Wibisana nyengir lebar, "Anak itu memang pintar membuat
orang lain susah.... Pandai menipu. Jago pura-pura merajuk. Haha, mirip benar
dengan tabiat buruk ayahnya waktu kecil."
Ikanuri mengusap rambut. Ikutan nyengir. Bergumam dalam hati,
Wibisana pasti juga mengantongi daftar puluhan pesanan yang sama dari
Delima, anaknya. Bukankah kemarin Juwita bilang, ia mengirimkan daftar
pesanannya ke Delima lewat email. Anak-anak mereka yang berumur enam
tahun itu mirip benar ayahnya masing-masing. Kompak urusan beginian, meski
sering sekali justru sibuk bertengkar saat sedang bermain bersama. Sebenarnya
perangai Delima-Juwita memang copy-paste perangai ayah-ayah mereka berdua
waktu kecil dulu.
Pesawat Boeing kapasitas dua ratus penumpang itu bersiap meluncur ke
landasan bandara. Gemerlap lampu kota Roma terlihat indah dari bingkai
jendela. Menawan. Wibisana melipat laptopnya.
"Kau sudah selesaikan revisi presentasinya?"
Wibisana mengangguk mantap, "Kali ini, petinggi pabrik itu tidak akan
menolak.... Kita akan memberikan lebih banyak keuntungan dibandingkan
perusahaan dari China itu!"
Ikanuri mengangguk kecil. Memasukkan kertas pesanan gadis kecilnya ke saku. Menepuk-nepuk saku kemeja. Ini perjalanan bisnis yang penting.
Pembicaraan besok pagi di salah satu kedai kopi elit dekat Piazza de Palozzo
akan menentukan rencana ekspansi pabrik kecil milik mereka. Sebenarnya
dibandingkan pesaing raksasa industri China itu mereka tidak ada apa-apanya.
Pabrik butut itu tak lebih dari bengkel modifikasi mobil. Mereka hanya punya
modal nekad. Keberangkatan ini juga pakai acara pinjam uang Mamak Lainuri
segala. Ah, sejak kecil memang inilah yang mereka miliki. Nekad. Bandel.
Keras kepala. Di samping tentang teriakan 'kerja-keras', 'kerja-keras', 'kerja-
keras' yang selalu diocehkan Kak Laisa saat galak melotot sambil memegang
sapu lidi, memarahi mereka.
Sejak kecil Ikanuri dan Wibisana sudah kompak. Kakak-beradik yang
selalu bisa saling mengandalkan. Hari ini mereka berangkat ke Roma bersama-
sama. Menyelesikan tender hak pembuatan sasis salah-satu mobil balap
tersohor produksi Italia. Seperti biasa, pesaing mereka (juga pesaing
pengusaha-pengusaha lokal lainnya), datang dari negeri Panda, China. Mereka
sejak kecil selalu berdua. Tidak terpisahkan. Sekarang saja rumah mereka
berseberangan jalan. Dengan istri dan satu gadis kecil usia enam tahun masing-
masing. Delima dan Juwita. Bahkan, percaya atau tidak, Ikanuri dan Wibisana
menikah di hari, tempat, dan penghulu yang sama. Delima dan Juwita juga lahir
di hari yang sama. Jadi meski tidak kembar secara biologis, Ikanuri dan
Wibisana lebih dari 'kembar'.
Lima menit berlalu, burung besi berukuran jumbo itu mendarat dengan
mulus di landasan. Penumpang yang seratus persen sudah terjaga bergegas
menurunkan tas-tas dari bagasi. Bersiap turun setelah penerbangan belasan jam.
Menggerak-gerakkan badan. Berusaha mengusir pegal.
"Biar aku saja yang menghubungi mereka!" Ikanuri yang melihat
Wibisana mengeluarkan HP-nya, ikut mengeluarkan dua telepon genggam
miliknya. Satu untuk urusan bisnis. Satu untuk urusan keluarga. Dua-duanya
dikeluarkan. Perlahan menekan tombol ON. Menyalakannya. Tadi saat
keberangkatan, galak sekali pramugari pesawat menyuruh penumpang
mematikan HP. Yeah, penumpang dari Indonesia memang bebal bin bandel soal
beginian. Mereka lupa, maskapai yang mereka naiki bukan maskapai domestik
kelas kampung yang cuek dengan standar internasional keamanan penerbangan.
"Mereka berjanji menjemput di bandara, bukan?" Wibisana duduk
kembali, membiarkan penumpang lain bergegas turun duluan.
"Yap, tenang saja, Italiano Silsilia itu pasti akan menjemput kita. Kalau
tidak, paling sial kita nyasar lagi di negeri orang, haha," Ikanuri tertawa,
menunggu dua telepon genggamnya booting. Dua detik berlalu. Lantas
menekan phonebook.
Tetapi sebelum dia melakukannya, HP untuk urusan keluarganya keburu
bergetar duluan. SMS. Juga bergetar di saat bersamaan HP milik Wibisana. Itu
juga HP urusan keluarga. Siapa? Ikanuri dan Wibisana menelan ludah. Saling
bersitatap satu sama lain. Siapa yang mengirimkan SMS? Hanya ada enam
orang yang tahu nomor itu, dan mereka berdua diantaranya.
Keliru. Bukan dari siapa pertanyaan tepatnya Ikanuri dan Wibisana
barusan. Tapi lebih tepat: ada apa? Apa yang terjadi? Wajah mereka berdua
mendadak mengeras, cemas, SMS? Ini pasti Mamak Lainuri. Yang lain pasti
selalu menelepon jika ada urusan penting. Bukankah seumur-umur Mamak
tidak pernah mengirimkan SMS. Menggunakan HP-nya saja, Mamak tak mahir
benar. Jika Mamak yang kirim, ini pasti penting sekali.
Tangan Ikanuri dan Wibisana sedikit terburu-buru menekan tombol open.
Gagap membaca kalimat-kalimatnya. Menggigit bibir. Terdiam. Lantas
bersitatap lemah satu sama lain lagi. Satu detik. Dua detik. Lima detik. Senyap.
Berdiri diam di antara sibuknya gerakan 198 penumpang beranjak turun. Dan
seperti sontak diperintahkan, mereka berbarengan melangkah mendekati
pramugari. Mendorong-dorong penumpang lain. Bersikutan. Lupa sudah
dengan koper-koper. Lupa sudah dengan janji pertemuan bisnis yang penting,
besok pagi. Lupa dengan segalanya.
Ikanuri terbata berkata: "Il Volo.. per Jakarta.. C'e un volo per Jakarta
questa sera?"
Apa ada…penerbangan kembali ke Jakarta... malam ini juga?
ovel Bidadari-Bidadari Surga BAGIAN 5 (5 foto)
==> http://www.facebook.com/notes/maiya-azyzaa/novel-bidadari-bidadari-surga-bagian-5/247947471954369

BIDADARI-BIDADARI SURGA by Tere Liye
BAGIAN 5
PENGUASA ANGKASA

DUA PULUH RIBU kilometer dari langit malam kota Roma yang cemerlang
oleh cahaya. Di sini, pagi justru sedang beranjak meninggi. Pukul 06.00. Udara
berkabut. Putih membungkus puncak Semeru. Pemandangan luas menghampar
begitu memesona. Tebaran halimun yang indah. Empat gunung di sekitarnya
terlihat menjulang tinggi, mengesankan melihatnya. Berbaris. Gunung Bromo.
Tengger. Merbabu. Seperti serdadu. Uap mengepul dari kawah Semeru. Angin
mendesing lembut. Samudera Indonesia memperelok landsekap, terlihat
terbentang nun jauh di sana. Membiru. Sungguh pemandangan yang hebat.
Tangan yang memegang teropong binokuler berkekuatan zoom 25 kali itu
sedikit gemetar. Brrr.... Dingin. Suhu menjejak 4 derajat celcius di atas sini,
ketinggian 3150 meter dpl (di atas permukaan laut). Jaket tebal yang
membungkus, topi lebar, slayer besar tak membantu banyak. Hanya karena
terbiasa dan antusiasme tak terbilanglah yang membuat gadis berumur 34 tahun
itu tetap bertahan dari tadi shubuh persis di tubir kawah Semeru. Mukanya
seolah tidak peduli dengan dinginnya pagi, malah menyeringai oleh senyum
senang. Mata hitam indahnya bercahaya. Wajah cantik itu amat bersemangat.
Rambut panjangnya menjuntai, mengelepak pelan oleh deru angin pagi....
Ia sudah lama menunggu kesempatan ini. Dingin dan sukarnya trek terjal
pegunungan bukan masalah. Ia menguasai medan sulit seperti ini sejak kedl.
Dulu, sejak ingusan, ia belajar langsung dari jagonya.
"Arah pukul dua belas! Arah pukul dua belas!" Gadis itu tiba-tiba berseru
tertahan.
"Mana? Di mana?"
"Lima belas meter dari bibir kawah. Dinding dekat batu cokelat! Batu
cokelat, bukan yang hitam." Gadis itu berbisik antusias ke teman-teman di
belakangnya, berusaha mengendalikan volume suaranya.
"Mana? Di mana?" Dua rekannya, cowok-cewek, dengan usia tidak beda,
dengan pakaian sama tebalnya bertanya lagi sambil beringsut mendekat.
Mengarahkan binokuler masingmasing ke arah yang ditunjuk gadis satunya
barusan.
"Batu besar arah jam dua belas! Batu besar cokelat—"
"Batu besar? Cokelat?"
"PKAAAK!" Lenguh suara nyaring itu sempurna sudah memecah hening
puncak Semeru. Bagai menguak kabut. Bagai membelah halimun. Membuat
wajah-wajah sontak tertoleh, mendongak.
"PKAAAK!" Sekali lagi membuncah pagi.
"Terbang! Ada yang terbang."
"Di mana? Di mana?"
"Arah pukul delapan. Di atas. Di atas, sebelah kiri!"
Gadis yang duduk paling depan, yang membungkuk di tubir kawah
Semeru itu berseru semakin tertahan. Wajahnya semakin antusias. Berbinar-
binar senang. Binokuler ditangannya bergerak gesit. Rambut panjangnya
bergerak anggun. Zoom in. Teropong model canggih itu berdesing oleh perintah
auto focus.
Persis di atas mereka, seekor burung alap-alap kawah gunung, dengan
bentang sayap berukuran 45 cm, bagai pesawat falcon, mungkin juga F-14
menderu melesat. Bukan main. Sempurna seperti sedang menyibak gumpalan
putih kabut. Bicara soal kecepatan dan manuver terbang, sumpah tidak ada
yang mengalahkan Peregrin, inilah sang penguasa kawah gunung. Bukan elang.
Bukan garuda. Bukan pula Rajawali. Tapi alap-alap (kawah). Merekalah
penguasa langit sejati. Burung yang hidup di tempat tertinggi di dunia. Di
tempat paling eksotis di seluruh muka bumi. Yang mampu terbang hingga ke
ketinggian pesawat terbang.
"PKAAAK!" Alap-alap kawah itu terbang melesat seolah hendak
menghujam ke dinding dekat gumpalan batu cokelat. Sarangnya!
Tiga orang yang mengawasi dari sisi lereng seberangnya melotot melalui
binokuler. Sungguh, pemandangan yang menakjubkan.
Gerakan tubuh alap-alap kawah itu persis bagai pesawat tempur yang
menyerbu. Dan sedetik sebelum tubuhnya seakan-akan hendak menghantam
dinding kawah, sayapnya terlipat ke belakang. Begitu anggun, begitu mulus,
kecepatannya berkurang dalam hitungan sepersekian detik. Lantas bagai
seorang ballerina sejati, sekejap, sudah mendarat sempurna. Perfecto!
Gadis yang duduk di depan menggigit bibir. Terpesona. Menghela nafas.
Sungguh pertunjukan atraksi alam yang spektakuler. Binokulernya mendesing.
Mode: full zoom in. Sekarang ia bisa melihat bulu leher Peregrin yang
kemerah-merahan seperti menatapnya dari jarak sedepa saja.
Kuku-kuku kaki tajam induk alap-alap kawah itu menggenggam mangsa
yang baru didapatnya pagi ini. Tiga ekor anaknya menyembul dari dalam
sarang. Ber-pkak, pkak lemah, meski riang. Paruh yang terjulur. Warna emas
itu. Positif! Tidak salah lagi!
"Ya Allah! Itu jelas-jelas Peregrin varian baru! Jenis baru.... Ini, ini berarti
Bidadari-Bidadari Surga Bidadari-Bidadari Surga
Editor By. I-One Editor By. I-One
Gold Level untuk bantuan penelitian kita. Thanks, God! Akhirnya. Akhirnya!
Seratus ribu dollar Amerika untuk konservasi mereka...." Gadis yang duduk
paling depan itu tertawa lebar, melepas teropong binokuler dari wajahnya.
Terlihat amat senang. Lega. Menghempaskan pantatnya ke bebatuan. Dua
temannya ikut mengangguk-angguk beberapa detik kemudian. Sepakat soal
varian baru tersebut setelah melihatnya lebih jelas dengan binokuler masing-
masing. Ikut tertawa lega.
Yashinta nama gadis itu. Team leader kelompok penelitian kecil burung
dan mamalia endemik. Selain peneliti dari lembaga penelitian dan konservasi
nasional di Bogor, ia juga koresponden foto National Geographic.
Mengumpulkan foto-foto alam yang indah dan insightfull untuk majalah itu.
Pagi ini, setelah berkutat seminggu di puncak Semeru, mereka akhirnya
berhasil menemukan sarang burung langka tersebut. Awal yang baik dari riset
berbulan-bulan ke depan untuk memetakan perangai dan tingkah-laku alap-alap
kawah varian baru. Proyek konservasi jangka panjang.
Yashinta meraih kamera SLR di tas pinggangnya. Senyum riang itu tak
kunjung lepas dari wajah memerahnya. Ini akan jadi foto yang hebat, desisnya
senang. Bisa jadi photo cover majalah. Membuka lensa kamera. Bersiap
mengambil foto induk Peregrin yang sedang memberi sarapan tiga anaknya.
Saat itulah, saat Yashinta sibuk mengarahkan lensa 600/6.4 mm, lensa dengan
kemampuan merekam tahi lalat di pipi soseorang dari jarak seratus meter,
telepon genggam satelit yang ada disaku celana gunungnya mendadak
berdengking-dengking.
Kedua temannya menoleh. "Ssst!" Menyeringai mengingatkan. Mana
boleh bersuara saat mereka mengamati burung. Lihatlah, meski jarak mereka
nyaris lima puluh meter dengan sarang alap-alap kawah, induk burung itu
mendadak menoleh. Terganggu.
Yashinta nyengir, maaf, buru-buru meraih HP-nya.
Yang berdengking adalah HP satelit urusan keluarga, yang selalu ia bawa
kemanapun pergi. Tiba-tiba jantung gadis itu berdetak lebih kencang. Dari
siapa? Ah-bukan, bukan itu pertanyaan tepatnya, tapi ada apa? Apa yang
terjadi? S-M-S? Itu pasti Mamak. Bukankah Mamak tidak pernah
menggunakan HP-nya? Tidak pernah terbiasa? Yang lain pasti selalu
menelepon. Kenapa pagi ini tiba-tiba Mamak mengirimkan SMS? Sedikit
terburu-buru Yashinta menekan tombol oke. Terbata membaca pesan 203
karakter tersebut. Seketika, hilang sudah senyum riang itu.
Seketika hilang sudah wajah menggemaskan kemerahan terbakar cahaya
matahari pagi di puncak Semeru itu. Yashinta dengan tangan bergetar
menurunkan kamera canggih SLR-nya. Menelan ludah, menyeka dahi, lantas
berbisik lemah, "Aku harus pulang! Aku harus pulang!"
Senyap. Gumpalan kabut yang membungkus puncak Semeru mendadak
membungkus sepi. Yashinta sudah bergegas turun dari tubir kawah. Sambil
jalan, sembarangan memasukkan peralatan ke dalam ransel. Tidak peduli
tatapan terperangah dua temannya. Tidak peduli dua ekor Peregrin lainnya
dengan anggun terbang mendekat ke sarang di batu cokelat. Tidak peduli.
Apalagi pemandangan hebat dari puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Yashinta berlarian menuruni lereng terjal.
Pulang. Ia harus segera pulang!
Itu pasti Kak Laisa! Itu pasti Kak Laisa! Yashinta menyeka matanya yang
mendadak basah, sambil terisak menangis, meluncur menuruni cadas bebatuan
secepat kakinya bisa.
Bergegas....

BERSAMBUNG..,
==> http://www.facebook.com/notes/maiya-azyzaa/novel-bidadari-bidadari-surga-bagian-6/250744471674669

BIDADARI-BIDADARI SURGA by Tere Liye
BAGIAN 6
AKU HARUS PULANG, SEKARANG!

"ADUH, Intan lagi sibuk, Mi!" Gadis kecil itu menyeringai sebal. Merasa
terganggu.
"Intan harus pulang, sayang...."
"Kan bisa tunggu bentar, lagi tanggung, Bentar lagi juga bel!"
"Sekarang, Intan! Tadi Ummi sudah bicara sama Headmaster Miss Elly!
Intan boleh ijin selama diperlukan— "
"Yee, Ummi, Intan kan lagi ngurus Safe The Planet! Mana lagi seru-
serunya. Besok kan Intan mau keliling bawa-bawa gelang karet ke Pasar Induk
bareng teman-teman.... Mana boleh Intan ijin sekolah...." Gadis kecil yang gigi
atasnya sedang tanggal satu itu malas memberesi tas, penggaris, crayon, kertas
gambar, buku-buku, pensil di atas mejanya. Sengaja melakukannya pelan-
pelan.
Teman-teman kelasnya sibuk menoleh, menonton.
Dalimunte yang berdiri di belakang, tersenyum mengangguk. Berusaha
membuat nyaman teman-teman Intan, meski apa daya ekspresi mukanya jadi
terlihat aneh. Mereka baru saja tiba di sekolah alam itu. Menjemput putri
mereka persis di tengah pelajaran melukis—favorit Intan. Rusuh sejenak bicara
dengan kepala sekolah. Menjelaskan. Headmaster Miss Elly yang apa daya
nge-fans berat sama Profesor Dalimunte, jangankan soal sepenting ini, soal
Intan pilek sedikit saja langsung boleh ijin tiga hari, mengangguk. Tidak
masalah.
"Memangnya kita mau kemana sih, Mi? Mendadak benar!" Gadis kecil
berumur sembilan tahun itu memasukkan crayon biru terakhirnya ke dalam tas.
Menoleh ke wajah Ummi yang seperti tidak sabaran ikut membantu berberes-
beres. Padahal sejak setahun terakhir mana pernah coba Ummi bantu-bantu
beres kamarnya, Intan kan sudah besar, bisa sendiri.
"Perkebunan strawberry!" Dalimunte yang menjawab, pendek.
"EYANG LAINURI?" Mata hitam gadis kecil itu membulat. Dalimunte
mengangguk, mengusap lehernya.
"HORE!!" Intan mendadak malah semangat menyeret tas sekolahnya
yang berat itu. Wajah malasnya tadi langsung sirna. Ia malah tidak perlu
ditunggu lagi, langsung maju ke depan. Membawa kanvas lukisnya. Pamitan ke
Miss Ani, guru kelas 5-nya (dua tahun terakhir Intan loncat kelas dua kali).
Lantas, tanpa diminta memimpin berjalan di depan Dalimunte dan Ummi
sambil melambaikan tangan ke teman-temannya.
"Eh, sebentar-"
"Apa sayang?" Langkah Ummi ikut terhenti.
"Gelang karetnya kelupaan! Intan kan mesti bawa gelang karet buat
Eyang! Biar pamanpaman yang ngurus kebun bisa pake gelang, biar mereka
pakai dua gelang setiap tangannya!" Ia nyengir, tertawa kecil, senang atas
idenya. Berhenti sejenak. Mendekati teman-temannya yang masih sibuk
menonton.
Dalimunte untuk ke sekian kalinya melirik jam di pergelangan tangan.
Mendesah. Semoga belum terlambat.

**********

"Come on, why nan avete due posti per noi? Any flight, questo e molto
importante!" Wajah Ikanuri terlihat memelas.
Dulu Ikanuri jagonya soal menipu orang lain dengan wajah sok memelas.
Kak Laisa yang suka mengejar-ngejarnya dengan sapu lidi, berkali-kali tertipu
soal ini. Sok memelas sakit (malas sekolah). Sok memelas sakit (malas bantu
Mamak Lainuri). Sok memelas sakit (malas ngurus kebun). Sakitnya si bisa
macam-macam. Sakit kaki-lah. Sakit tangan. Bisul. Bahkan panu pun bisa jadi
alasan Ikanuri.
"Mi displace, tutti i voli dall'italia sono pieni da una settimana fa! Questa
settimana c'e la finale di Champions League!. Maaf, penerbangan kemanapun
dari Italia sudah penuh sejak seminggu lalu! Minggu ini final Liga Champion,
Senior! Seluruh jadwal penerbangan penuh dari Roma!"
"Ayolah! Bagaimana mungkin kalian tidak punya dua kursi untuk kami?
Di kelas apapun. Penerbangan apapun. Ini penting sekali! Dua tiket saja!"
"Senior tidak mengeri. Ini final Liga Champion—"
"Solo due biglietti?"
"Questa e la finale di Calcio—"
"Sepak bola sialan! Kenapa pula semua orang sibuk menonton 22 orang
berebut satu bola! Kenapa mereka tidak dikasih 22 bola juga saja!" Ikanuri
memotong kalimat gadis itu, meremas rambutnya. Memaki. Teringat kaos bola
titipan putrinya.
Ini juga gaya favorit Ikanuri waktu kecil dulu kalau menipu guru di kelas
(ketahuan bolos). Atau ketahuan mencuri uang di kelpeh plastik Mamak
Lainuri. Sok bego tidak mengerti. Ah, tapi sekarang ekspresi itu benar-benar jujur. Lagipula sejak puluhan tahun silam, Ikanuri sudah insyaf. Kapok.
Mengerti benar maksud Kak Laisa yang suka berteriak, 'kerja keras!', 'kerja
keras!', 'kerja keras!'
"Bisa tolong cek jadwal penerbangan maskapai lainnya, please?"
Wibisana yang berdiri agak dibelakang Ikanuri menyibak maju ke depan.
Berusaha tersenyum ke gadis penjaga loket biro perjalanan di Bandara Roma
yang sejak tadi berkali-kali tersenyum tanggung menghadapi seruan-seruan
Ikanuri.
"Percuma, Senior, Benar-benar full. Anda lihat rombongan di sana!
Rombongan kedutaan negara Anda. Mereka hari ini juga ingin ke Jakarta. Tidak
ada lagi tiket tersisa. Tidak buat mereka. Juga tidak buat, Senior. Maaf—"
Gadis penjaga itu mencoba ikut bersimpati. Menunjuk lima orang yang
bergerombol diruang tunggu. Wibisana dan Ikanuri menelan ludah.
"Jadi apa yang harus kami lakukan?" Ikanuri bertanya putus-asa.
Gadis itu diam sejenak. Mengetikkan sesuatu.
"Kalau Senior mau, saya bisa melakukan reservasi penerbangan dari
bandara lain...." Menekan-nekan keyboard komputernya.
Wajah Ikanuri sedikit cerah oleh kemungkinan baik tersebut.
"Dari mana? Verona? Milan? Tidak masalah. Asal hari ini juga—"
"Maaf, bukan dari Italia, Senior. Tadi sudah saya bilang, malam ini
digelar pertandingan final Liga Champion di Roma, ditambah pula ini musim
kunjungan ke Vatikan, Sakramen Agung. Jadi seluruh penerbangan ke kota-kota
di Italia penuh. Juga negara-negara di sekitar. Vienna, Austria juga penuh.
Hm.... Paling dekat.... Ergh, dari Paris, Perancis! Mau??"
Perancis? Rona kabar baik itu seketika padam.

BERSAMBUNG..,

Senin, 30 April 2012

Assalaamu'alaikum...

Sahabat  yang dirahmati Allah...

Bagaimanakah kabar Shalat kita? Masihkah kita semua tetap istiqamah menunaikannya? Ataukah kita sudah acuh tak acuh dengan Shalat kita? Renungkanlah!

Dosa Meninggalkan ...Shalat Fardhu :

1. Shalat Shubuh :
Satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.

2. Shalat Dhuhur :
Satu kali meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat Islam.

3. Shalat 'Ashar :
Satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup / meruntuhkan Ka’bah.

4. Shalat Maghrib :
Satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orang tua.

5. Shalat Isya' :
Satu kali meninggalkan tidak akan di ridhoi oleh Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmat-Nya.

Balasan Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Di Dunia :

1. Allah SWT mengurangi keberkahan umurnya.
2. Allah SWT akan mempersulit rezekinya.
3. Allah SWT akan menghilangkan tanda/cahaya shaleh dari raut wajahnya.
4. Orang yang meninggalkan Shalat tidak mempunyai tempat di dalam islam.
5. Amal kebaikan yang pernah dilakukannya tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT.
6. Allah tidak akan mengabulkan doanya.

Siksa Orang Yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Menghadapi Sakratul Maut :

1. Orang yang meninggalkan shalat akan menghadapi sakratul maut dalam keadaan hina.
2. Meninggal dalam keadaan yang sangat lapar.
3. Meninggal dalam keadaan yang sangat haus.

Siksa Orang Yang Meninggalkan Shalat Fardhu di Dalam Kubur :

1. Allah SWT akan menyempitkan kuburannya sesempit-sempitnya.
2. Orang yang meninggalkan Shalat kuburannya akan sangat gelap.
3. Disiksa sampai hari kiamat tiba.

Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Bertemu Allah :

1. Orang yang meninggalkan Shalat di hari kiamat akan dibelenggu oleh Malaikat.
2. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan kasih sayang.
3. Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa-dosanya dan akan di azab sangat pedih di Neraka.

Mengenai balasan bagi orang yang meninggalkan Sholat Fardu ini diriwayatkan dalam sebuah Hadits :

Ketika Rasulullah SAW Mi'raj, oleh Malaikat Jibril diperlihatkan suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu. Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala mereka pecah, kemudian mereka kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: "Siapakah ini wahai Jibril"? Jibril menjawab: "Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Shalat fardhu". (H.R. Thabrani)

(Dikutip Dari "Himpunan Fadhilah Amal" - Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi)

Akhy dan Ukhty,
Mengerikan sekali bukan? Masihkah kita akan bermalas-malasan untuk menunaikannya?

Semoga bermanfaat dan akan menjadikan kita semua sebagai hamba yang senantiasa istiqamah dalam menjalankan ibadah Shalat yang hanya 5 waktu. Salam santun dan salam ukhuwah dari kami... ^_^
Saat Sayyidina Ali Telat Subuh Berjamaah


Dini hari itu Ali bin ABi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.

Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru Kota Madinah.Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya.

Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi melambat. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya. Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau kena celaka.

Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid.

Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya kesempatan untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat shalat berjamaah.

Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”

Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?”

“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali. Kenapa?”

Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga.”

Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”

Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggungmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”

Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau sangat menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain. Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu kepada para sahabat.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini

Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda artike ini bermanfaat

Sumber : Dakwatuna.com